Monday, December 26, 2011

Why iPad?

iPad merupakan salah satu produk dari Apple Inc. iPad pertama kali diperkenalkan kepada publik pada tanggal 10 Januari 2010 oleh Apple’s CEO, () Steve Jobs,  dan akhirnya diluncurkan dua bulan setelahnya. Kehadirannya mendapat  respon yang luar biasa dari mayarakat, hal itu terbukti dengan terjualnya tiga juta perangkat dalam jangka waktu delapan bulan. Pada dasarnya iPad merupakan sebuah device atau perangkat yang menggabungkan dua platform berbeda yaitu PC dan mobile phone yang kemudian disebut dengan istilah tablet. iPad pada dasarnya adalah media audio-visual, seperti untuk menikmati games, music, web, movies, dan eBook.  Eksistensi iPad di tengah-tengah masyarakat telah menjawab kebutuhan masyarakat dunia terutama mereka yang profesinya membutuhkan kecepatan (mobile) dalam bekerja, seperti para pekerja marketing, manager sebuah perusahaan dll. Mengapa demikian, dari segi hardwarenya, iPad sangatlah minimalis dan ringan untuk dibawa kemanapun kita pergi (portable). Ini sangat cocok bagi mereka yang bekerja dengan motto “time is money” :D, sedangkan dari segi software nya, iPad memiliki segudang aplikasi yang sangat membantu para pebisinis pada khususnya. Salah satu keunggulan yang iPad tawarkan adalah kita dapat mengakses internet dengan cepat dengan akses Wi-Fi yang sudah built-in atau terintegrasi langsung di dalamnya, so kita dapat mengakses internet dimanapun dan kapanpun. Selain itu, dengan iPad kita juga dapat melakukan conference video call dimanapun, yang berarti kita tidak perlu bertatap muka langsung dengan klien-klien kita. So, tak ada alasan bagi kita untuk tidak mengakui bahwa iPad memang mempunyai kelasnya tersendiri. http://gadgettweak.com/

iPad and its Marketing Mix

1.       Murujuk pada konsep Marketing Mix, iPad telah melakukan beberapa inovasi. Dari segi produk, iPad telah menjawab kebutuhan pasar saat ini, sebelum iPad lahir, saya percaya beberapa observasi pasti telah dilakukan. Saat itu pasar mungkin berpikir atau berimajinasi mereka dapat membawa barang-barang yang mereka sukai atau menunjang kehidupan mereka tanpa harus dalam suatu alat atau perangkat yang ringan dan mudah dibawa kemanapun mereka pergi. Pihak Apple berusaha meresponi kebutuhan tersebut. Hal tersebut terjawab dengan lahirnya iPad yang dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi yang sophisticated, seperti eBook untuk membaca novel kesukaan, iClouds sebagai aplikasi penyimpanan data-data seperti foto. Dari segi harga, iPad tidak ragu untuk memasang harga yang cukup tinggi, mereka tidak terpengaruh dengan hadirnya gadget-gadget serupa yang berani menawarkan harga yang  murah. Alasan mengapa demikian adalah karena iPad merasa sejumlah uang yang customer harus bayar untuk sebuah iPad sangatlah worth it dengan apa yang customer bisa peroleh melalui iPad. Pihak iPad percaya bahwa ketika seseorang merasa cocok atau clique dengan suatu benda, ia tidak akan berpikir panjang untuk memperolehnya. Apple sangat cerdas dalam melihat kondisi pasar. Apple tahu bahwa Negara-negara Asia saat ini sedang mengalami perkembangan ekonomi yang pesat, seperti China, Hong Kong, Singapore, bahkan Indonesia. That’s why pada saat salah satu negara yang dipilih pihak Apple  pada acara peluncuran iPad pada bulan April tahun lalu adalah Hong Kong.  Apple Inc. tidak lagi berharap penuh pada Negara-negara besar dan maju seperti Amerika, Inggris dan Negara-negara eropa lainnya. Last but not least yaitu promosi. Dengan semua kecanggihan yang iPad miliki, iPad tanpa ragu meluncurkan berbagai iklan- iklan, terutama melalui media Internet. iPad menyadari bahwa saat ini orang lebih banyak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdiam diri untuk sekedar browsing atau social networking di depan PC atau handphone untuk  dari pada melihat acara-acara di televisi. http://gadgettweak.com/

iPad at Hotels

1.       Inovasi yang dapat dilakukan oleh industri hotel melalui percepatan teknologi dewasa ini salah satunya adalah menerapkan system taking order  dengan iPad sebagai medianya. Value yang bisa diberikan kepada tamu yaitu servis yang lebih cepat. Mengapa demikian, karena seorang waiter tidak perlu lagi mencatat order tamu dalam kertas kemudian memasukannya atau key-in di system. Dengan demikian kita dapat menghilangkann satu step dalam SOP taking order. Hal lain yang dapat dilakukan adalah seperti apa yang telah dilakukan oleh Park Hyatt Hotel Chicago. Mereka menggunakan iPad dalam salah satu operasi mereka yaitu in-room dining atau room service. Saat ini hampir semua tamu yang menginap membawa iPad mereka masing-masing. Sehingga hotel melihat ini sebagai sebuah peluang untuk memberikan servis yang lebih baik kepada tamu. Konsep yang saya tangkap dari sistem yang diterapkan oleh Park Hyatt Hotel adalah mereka membuat sebuah akses Wi Fi didalam wilayah hotel. Yang perlu tamu hotel lakukan adalah mengakses Wi Fi tersebut, kemudian setelah itu tamu diminta untuk memasukkan room number atau nama tamu tersebut , kemudian barulah tamu dapat memilih menu yang tersedia di hotel tersebut sesuai dengan seleranya masing-masing. Secara otomatis order tamu tersebut akan masuk kedalam  sistem yang ada di room service office. Sehingga dengan demikian satu pekerjaan order taker dapat dihilangkan. Keunggulan dari sistem ini adalah dapat melakukannya kapan saja ndan dimana saja. 

Saturday, December 10, 2011

Hotel Administration proudly presents "Hospitality Got Talent"

PSD is abbreviation of Professional Skill Development. It's an event held once a semester by all sub departments in Hospitality Department. Its regularly held by the end of semester right  before semester final test. Every sub department usually has their own unique concept according to their major. I'll go straight forward to share what my major has done in this year.
This year I was assigned to be the leader of PSD. Honestly there was a moment i felt no confident with my self as a leader. But I didnt let the fear takes over the situation. I decided to keep going because I was willing to grow up. Luckily i wasn't alone to deal with this challenge. I was equipped with wonderful people beside me and ready to help me to succeed this event. After holding a couple of meetings we finally found a concept we all agreed. We named it "Hospitality Got Talent". Truly the concept was inspired from a happening television program with similar name. During more less a month preparation we did all best for the success of our event. we did budgeting, designing letters, decoration, advertising, consumption, logistic, setting the date and venue and many more.
The day finally came, it was Monday 5th December 2011 at Dome STPB. we invited all students from all departments to come to our PSD. We felt so glad to know that we got a good respond from them. There was a quite big number of students came to visit our event. In our PSD, the visitors were not only entertained by the performance of participants but also the food bazaar, we sold foods, beverages and even clothing. Here we also learned about entrepreneurship. some of revenues generated we gave away to help the lack of cash of Grand Tour Bali. In summary i conclude that PSD Hotel Administrration 2011 "Hospitality Got Talent" is successfully done. thanks folks thanks Jesus :)

Saturday, October 29, 2011

Jawaban Soal No.4



Tune Hotel
Tune hotel merupakan hotel dengan room rate termurah per malamnya dari ketiga hotel di grafik, sepanjang tahunnya. Hotel ini tidak mengenal season. Menurut saya ini sangat menarik, terutama untuk hotel yang terletak di daerah Bali. Saya merasa ini merupakan salah satu strategi marketing mereka dalam meng’grab’ pasar dengan kelas menengah ke bawah. Hotel tidak muluk-muluk dalam menetapkan dalam harga kamar, karena hotel hanya menyediakan akomodasi kamar ‘tok’ kepada tamu. Keuntungan yang hotel dapatkan adalah, sudah pasti daily average occupancy mereka akan sangat amat tinggi. Akan tetapi konsep yang mereka gunakan ini pun memiliki kelemahan yaitu hotel tidak dapat meningkatkan revenue mereka, karena sepanjang tahun mereka menetapkan harga yang relative sama,meskipun beda hanya tidak begitu signifikan. Menurut saya hotel dengan konsep seperti ini ‘tidak normal’. Mereka hanya mengandalkan occupancy yang tinggi dengan revenue yang tidak seberapa.
F1 Hotel Jakarta
Hotel ini merupakan hotel dengan room rate paling tinggi diantara ketiga hotel di atas. Saya melakukan riset di F1 Hotel Jakarta. Just FYI, hotel ini merupakan salah satu Accord Group property dan tergolong kedalam hotel bintang dua. Dari segi konsistensi, hotel ini kurang lebih sama dengan Tune Hotel yaitu tidak mengenal season artinya room ratenya sama sepanjang tahun. Menurut saya hotel terlalu mahal dalam menentukan room rate per malam, karena hal tersebut tidak berbanding lurus dengan fasilitas yang mereka sediakan. Karena di beberapa hotel, terdapat kamar yang kamar mandinya terletak di luar kamar tamu. Akan tetapi keuntungan yang hotel dapatkan adalah mereka tahu bahwa jenis tamu yang menginap di hotel mereka adalah businessman menengah ke bawah yang mungkin hanya menginap satu atau dua hari sehingga hotel tidak perlu menyediakan fasilitas yang berlebihan seperti fitness centre, spa etc. Keuntungan yang hotel bisa peroleh adalah minimnya cost yang harus hotel keluarkan untuk membangun fasilitas-fasilitas untuk tamu, sedikitnya karyawan yang harus dipekerjakan.
Amaris Hotel
FYI, Amaris Hotel merupakan salah satu property dari Santika Hotels & Resorts. Hotel ini beda dengan kedua hotel di atas. Hotel ini mengenal season artinya hotel menetapkan harga tertentu dalam periode tertentu. Saya rasa hotel sudah sangat tepat dalam menentukan harga kamar, karena ini sebanding dengan apa yang market dapatkan yaitu breakfast, fasilitas yang memadai ditambah dengan venue yang menarik yaitu sekitar Legian, Bali. Hotel sadar dimana mereka berdiri, dan menurut saya room rate yang mereka tawarkan cukup ekonomis untuk ukuran Bali. Keuntungan yang hotel dapatkan adalah hotel bisa mengoptimalkan room revenue pada periode tertentu yang berpengaruh kepada keberlangsungan hotel dan juga kesejahteraan karyawan-karyawannya. Kelemahannya adalah hotel harus siap untuk bersaing dengan hotel-hotel yang satu kelas dengannya, yang tidak mengenal konsep seasoned rate.